Tampilkan postingan dengan label contoh puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contoh puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2012

Pajak

-Mereka bilang negara ini adalah negara demokrasi
Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat
Maka itulah di negaraku diterapkan pajak
Mereka bilang pajak ditarik dari rakyat
Kemudian digunakan untuk mengurus rakyat
Tapi mengapa tidak semua rakyat dapat merasakannya?
Bagaimana dengan saudaraku di Nusa Tenggara?
Tidakkah mereka berhak mendapatkan bagian dari pajak?
Bukankah pajak itu dari mereka dan untuk mereka?
Dimana hak mereka?
Atau mungkinkah seperti yang dikatakan para politikus itu?
Bahwa pajak adalah hak para petinggi dirjen pajak.
Contohlah Gayus Tambunan,
Berjalan-jalan ke Bali,
Dan membuat paspor seharga sembilan puluh sembilan juta
Hak-nya kah?
Pajak, oh pajak
Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk pemerintah
Pajak, oh pajak
Yang kami harapkan kesejahteraan,
Namun yang kami dapatkan kesengsaraan

ƪ(˘⌣˘)ʃ  fathimah 25 januari 2011
Komentar? mangga
Puisi ini saya buat dadakan di sekolah, alhamdulillah mendapatkan nilai 87 dan dipuji oleh guru saya. Guru saya bilang puisi ini setipe dengan puisi-puisi karya Pak Taufik Ismail. Kebetulan, saya memang pengagum beliau




Just found it out at kompasiana.com
actually, i can wrote poem well. Here is the link--> Puisi Pajak
-.fafa- 100persen asli :)

Ia Nyawanya

Disini ia bersimpuh
Ia ucapkan doanya hingga berpuluh-puluh
Ia harapkan hilangnya keluh
Dan kembalinya kapal nabi Nuh
Baginya dirinya adalah tangan
Yang bersusah mencari pangan
Dan hanya bisa menatap semua kenangan
Hari yang ia lewati adalah pasrah
Menjejaki siang tanpa marah
Menaikkan baju merapihkan kerah
Menjalani segalanya tanpa rasa lelah
(14 februari 2011)
ƪ(˘⌣˘)ʃ  lagi jalan-jalan nemu ini di kompasiana. Puisiku bagus ya hehehe
Klik ini kalau mau liat halaman aslinya--> di kompasiana

Maaciw, belajar mate dulu yee
-fafa- 100persen asli :)

Sabtu, 04 Desember 2010

Sebuah prosa tentang hidup

Kemarin tepatnya tanggal 04 Desember 2010.

Saya sedang berjalan membawa langkah saya kembali ke tempat peristirahatan, rumah saya. Saati itu di tangan kiri saya, saya memegang sebuah buku paket Bahasa Indonesia dengan ketebalan 200 halaman dan panjang 25 cm. Sedang di tangan kanan saya, saya menggenggam sebuah payung pink.

Saat itu hujan sedang turun, membuat pikiran saya teduh dan terbuka. Saat itu saya mulai memikirkan beberapa hal dalam hidup saya. Dimulai dengan 'Siapa orang yang paling berarti dalam hidup saya?'. Dan saat itu, saya merangkai jawabannya dalam sebuah puisi,

Satu hal yang sangat berarti dalam hidup saya
Adalah senyum ibu saya